PERTARUNGAN TIGA KARAKTER

Tulisan ini telah diterbitkan Kompas

“Dalam pertempuran,” ujar Napoleon, “tiga per-empat faktor kemenangan ditentukan oleh kekuatan karakter dan relasi personal, adapun seperempat lagi oleh keseimbangan antara tenaga-manusia dan material.”
Di hadapan altar pemilih Indonesia, telah tersaji  tiga pasangan calon presiden/wakil presiden dengan tiga karakter yang berbeda. Entah karena kebetulan, atau mungkin juga karena ketiga karakter tersebut memang sulit dipersatukan dan punya jalan kekuasaannya sendiri-sendiri. Sebab, seperti kata Cicereo, “Pada diri manusia yang berkarakter tinggi dan kejeniusan luhur bersemayam kehendak kuat akan kehormatan, komando, kekuasaaan, dan kemenangan.”
Susilo Bambang Yudhoyono menampilkan kerpribadian berkarakter charming, penuh pesona dan keluwesan. Datang dari keluarga bertradisi priyayi, SBY menampilkan gestur bergaya tertata, menjunjung daya pukau seperti dalam  deklarasinya di Bandung, punya keluwesan seperti percobaannya merangkul lawan, PDI-Perjuangan. Ia merupakan figur yang sempurna untuk mengisi kepemimpinan dalam tradisi, yang disebut Clifford Geertz, ‘Negara Teater’. “Kehidupan ritual di kraton—upacara massal, kesenian yang halus, tata karma yang rumit—tidak sekedar hiasan kekuasaan melainkan substansinya. Tujuan negara adalah untuk menyajikan pertunjukkan yang memukau bagi rakyatnya…”
Pasangannya dengan Budiono ibarat botol dan anggurnya. Seorang figur “pelayan” yang baik, halus budi, irit kata. Harmoni bisa terjamin, terhindar pengalaman konfliktual dengan pasangan sebelumnya. Pada pidato deklarasinya, yang menjadi top of mind dari kinerja pemerintahan dalam benak Budiono adalah pertumbuhan ekonomi. Persoalan makro-ekonomi menjadi pusat perhatiannya. Pergerakan angka-angka statistik akan menjadi padanan yang pas bagi kepemimpinan yang menekankan daya pukau pencitraan.
Mohammad Jusuf Kalla adalah kepribadian berkarakter orisinalitas. Datang dari keluarga non-priyayi yang tak terbelenggu prosedur ‘tata-krama” serta etos pedagang yang menuntut keberanian berrisiko membuatnya bisa bergerak lebih cepat. Gaya pidatonya yang ceplas-ceplos, dengan gestur yang “urakan” menunjukan karakternya yang tanpa basa-basi. Ia merupakan figur yang cocok untuk menggalang apa yang disebut Ben Anderson ‘nasionlisme kerakyatan”. Nasionalisme egalitarian yang mampu menggerakkan partisipasi dan solidaritas kolektif, seperti kemampuannya merekonsiliasi konflik di Ambon, Poso, dan Aceh. Pengalamannya sebagai pedagang cenderung menekankan pemulihan sektor ril, yang akan membawa rakyat hidup dalam dunia ril, bukan dunia bayang.
Pasangannya dengan Wiranto ibarat botol dan tutupnya; karakter pesisir yang menemukan jangkar pedalaman. Latar disiplin militer sebagai panglima membuatnya memahami ketegasan; latar adat Yogyakarta membuatnya memahami kesantunan. Top of mind dalam pidato-pidatonya adalah soal kemandirian. Persoalan kedaulatan dan  penguasaan cabang-cabang produksi yang menguasai hajat hidup orang banyak merupakan pusat perhatiannya. Hal ini merupakan padanan yang pas bagi kepemimpinan yang menekankan kenyataaan dan sektor ril.
Megawati Soekarno-putri adalah kepribadian yang berkarakter ketegaran. Datang dari trah pejuang, yang diperkuat oleh pengalaman hidupnya terpinggirkan secara politik dan sebagai oposisi, membuatnya mengerti arti jatidiri dan harga diri. Ketika elemen-elemen di dalam PDI-Perjuangan mulai kehilangan kepercayaan dan tergoda oleh rayuan Partai Demokrat, setegar baja Megawati mempertahankan mandat partai. Karakter demikian pas untuk menegakkan apa yang disebut Bung Karno sebagai kekuatan “berdikari”. Kekutan untuk beridiri di atas kaki sendiri: berdaulat secara politik, mandiri secara ekonomi dan berkepribadian secara kebudayaan
Pasangannya dengan Prabowo Subianto ibarat botol dengan pembuka tutupnya; ketegaran yang berpadu daya dobrak. Seorang pribadi kompleks, yang memadukan perbedaan agama; latar keluarga pejuang dalam pemberdayaan ekonomi rakyat dan ideologi sosialisme yang paradoks dengan latar kemiliteran dan ortodoksi Orde Baru, membuatnya berada dalam posisi liminal (antara). Dari kumpulannya kerapkali terbuang, dengan predisposisi untuk menjebol perbatasan. Top of mind dalam pidato dan kampanyenya adalah kerakyatan. Persoalan nasib, petani, nelayan, dan pedagang tradisional merupakan pusat perhatiannya. Hal ini merupakan padanan yang pas bagi kepemimpinan yang menekankan ketegaran dan kerakyatan.
Ketiga pasangan dengan tiga karakter tersebut memiliki keunggulan dan kelemahannya sendiri-sendiri. Masalahnya, karakter manakah yang kita perlukan untuk menyelesaikan problem kebangsaan dan kenegaraan hari ini. Tidak ada pemimpin yang cocok untuk segala musim. Seperti dikatakan Montesquieu dan Max Weber, kepemimpinan merupakan suatu fungsi yang dinamis yang beragam dalam watak, lingkup dan kepentingannya, tergantung pada perkembangan masyarakat. Konsekuensinya, kekuasaan dan lokus tindakan seorang pemimpin ditentukan oleh watak personal dan kondisi yang berkembang di lingkungan politiknya. Di masa yang “salah”, pemimpin yang baik belum tentu pemimpin yang tepat.
Masa krisis memerlukan peran kepemimpinan yang lebih besar  dengan misi pembebasan dan pemulihan tertib politik. Kandidat presiden yang dapat memenuhi tutuntan zaman ini adalah mereka yang mampu memadukan antara kemampuan persuasi (good campaigning) dan kemampuan tata-kelola (good governing), serta kemampuan menentukan prioritas nasional secara konsisten antara janji kuasa dengan kinerja kuasa.
Semoga rakyat punya kearifan untuk memilih karatker yang tepat untuk dipilih.

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: